Senin, 21 April 2014

Resume Wayang Kulit


Oleh Jajang Suryana
Pengayaan bahan pembuatan wayang ini menuntut cara mempertunjukkan yang lain. Yaitu, cara dan pertunjukan wayang berkelir (wayang kulit) yang berwarna. Tampilan berwarna bayangan wayang mika pada kelir akan didukung oleh efek pencahayaan yang juga nekawarna. Pembaruan pertunjukan wayang (kulit), wayang yang ditampilkan dengan menggunakan kelir, menjadi pertunjukan wayang yang penuh warna, merupakan upaya menarik minat para penonton muda yang pewaris budaya wayang, yang sudah terbiasa menonton berbagai acara televisi yang nekawarna.
Perubahan pertunjukan dan pengayaan jenis wayang, tidak mengubah pakem. Pakem wayang di antaranya mengikat jejer carita (jalan cerita utama), raut tampang, watak, dan penokohan. Sabetan dan pertunjukan, seperti pertunjukan melalui radio, rekaman kaset, maupun pada acara teve, sudah lama diterima oleh masyarakat pendukung wayang tanpa protes. Begitu pun lahirnya jenis wayang baru yang telah begitu lama kita ketahui, tidak menjadi permasalahan dalam pembicaraan tentang pakem. Wayang mika, gaya pertunjukan wayang berkelir yang berwarna, pada dasarnya mengacu kepada keadaan tersebut.
Tulisan ini dimaksudkan untuk menggagas upaya pelestarian salah satu hasil budaya milik bangsa Indonesia yang berharga, yang telah diakui sebagai salah satu benda budaya milik dunia. Pelestarian bisa berarti pelanjutan secara utuh atau hanya sekadar pengembangan. Pengayaan bahan pembuatan wayang kulit, pengembangan gaya pertunjukan wayang kulit berwarna, termasuk ke dalam bentuk usaha pelestarian tadi. Yang mengilhami gagasan ini adalah keberadaan wayang kulit purwa Buleleng.
Wayang kulit purwa Buleleng hingga saat ini kurang begitu akrab dengan masyarakat pendukungnya, terutama dengan kaum muda. Dari hasil wawancara awal, banyak kaum muda yang menyatakan kurang menyukai pertunjukan wayang kulit ini. Kendala pertama yang diakui oleh sejumlah kaum muda Buleleng, adalah unsur bahasa yang digunakan dalang dalam mempertunjukkan wayang. Bahasa pengantar pertunjukan wayang adalah bahasa yang tidak dimengerti oleh kaum muda, yaitu bahasa Jawa Kuna. Kendala kedua menyangkut segi pertunjukan wayang yang kurang sesuai dengan dunia kaum muda.
Pewarisan budaya adalah pengalihan tanggung jawab dari generasi tua kepada generasi muda. Seandainya kaum muda sebagai kelompok yang akan diwarisi budaya tidak memiliki ikatan kepemilikan terhadap sesuatu yang akan diwariskan, maka proses penurunan tidak akan berjalan mulus. Sejumlah seni tradisional yang pada dasarnya menunjukkan nilai-nilai kepiawaian bangsa Indonesia, telah punah tanpa sempat terdokumentasikan, apalagi terwariskan.
Wayang kulit purwa Buleleng yang selama ini lebih banyak --khususnya-- digunakan untuk kebutuhan melengkapi upacara manusa yadnya, bisa diperluas jangkauan fungsinya, bukan sebagai media tuntunan semata. Tuntunan yang terkandung dalam penceritaan wayang, akan lebih banyak tersampaikan bila kesempatan mempertunjuk-kan wayang itu lebih banyak dan lebih memasyarakat. Salah satu usaha untuk mendekatkan wayang kulit purwa Buleleng dengan masyarakat masa kini, terutama untuk menjangkau masyarakat penonton muda adalah melalui pembaruan tampilan wayang.
Sejak abad ke-9 (tercatat dalam prasasti tembaga dan Ugraçena) pertunjukan wayang telah ada di Nusantara. Bentuk dan jenis wayang yang dipertunjukkan tidak disebutkan di dalam prasasti tersebut. Pada awalnya, menurut perkiraan para dalang, wayang kulit pertama terbuat dari kulit kayu (Jajang S., 1995: 48-49). Unsur agama Hindu (cerita Bhima Kumara: Mahabharata) di samping unsur cerita pemujaan terhadap arwah para leluhur, dipakai secara berdampingan sebagai unsur cerita wayang. Selanjutnya muncul wayang lontar yang disebut sebagai wayang purwa pertama. Sekitar tahun 1200-an tercatat adanya wayang kertas yang selanjutnya disebut wayang bèbèr (Tabrani, 1991: 6). Baru pada abad  ke-13 tercatat adanya wayang yang terbuat dari bahan kulit binatang yang disebut wayang prampogan, rombongan. Tercatat pula wayang yang dibuat dari bahan kayu pipih (wayang klithik), kayu bulat torak (wayang golek), dan seng.
Salah satu bentuk wayang peninggalan masa lalau yang kini masih bertahan hidup di lingkungan masyarakat pendukungnya adalah wayang kulit purwa Buleleng. Wayang kulit ini dikelompokkan sebagai wayang purwa karena ceritanya menyangkut lakon Mahabharata dan Ramayana. Wayang kulit purwa ini bisa bertahan hidup karena merupakan bagian dari upacara keagamaan. Setiap upacara manusa yadnya (ruatan, kelahiran, dan wetonan), pitra yadnya (nyekah), dan juga dewa yadnya pertunjukan wayang merupakan salah satu bagian pelengkapnya. Jenis wayang yang digunakan adalah wayang gedog atau wayang lemah yang dipertunjukkan pada siang hari. Tetapi, di samping itu, pada saat-saat seperti kaulan, misalnya, wayang ini pun kerap dipertunjukkan.
Pertunjukan wayang untuk keperluan pelengkap upacara keagamaan cenderung sebagai pertunjukan yang fragmentaris, berupa potongan-potongan cerita yang disesuaikan dengan jenis upacara dan pesanan pengundang. Waktu pertunjukan yang sangat pendek, penyampaian cerita yang terbatas, dan penonton juga yang terbatas, menyebabkan penyampaian tuntunan yang merupakan fungsi awal wayang, kurang terolah. Apalagi jika mempertimbangkan wayang sebagai tontonan. Memang ada pertunjukan wayang yang lebih banyak ditujukan untuk keperluan tontonan, hiburan, yaitu pertunjukan wayang malam hari pada rangkaian upacara ngaben misalnya, tetapi faktor bahasa tetap menjadi kendala bagi penonton.
Seperti disebutkan di atas, salah satu kendala yang menyebabkan kurang akrabnya generasi muda dengan pertunjukan wayang kulit purwa Buleleng adalah masalah penggunaan bahasa yang kurang dekat dengan mereka. Soal bahasa, sebagai alat penyampai tuntunan, memegang peranan penting dalam proses ketersampaian pesan. Di samping itu, unsur pertunjukan baik ujaran (audio) maupun tampilan (visual) --pada adasarnya merupakan bagian paling penting dalam kesenian wayang-- adalah daya penarik utama yang bisa mengoptimalkan wayang sebagai media penyampai tuntunan.
Perubahan bahan pembuatan wayang telah berulang kali dilakukan. Dari sekitar 40 jenis wayang yang pernah tercatat hidup dalam kesenian Indonesia, wayang-wayang tersebut (di luar wayang orang dan wayang langendria) umumnya terbuat dari bahan kulit binatang, kertas, dan kayu (pipih maupun bulat torak). Perubahan tersebut berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hasil karya ini adalah manifestasi dari pergeseran nilai akibat perubahan nilai fungsi wayang (Yudoseputro, 1993: 42). Keselarasan antara fungsi wayang dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan zamannya harus merupakan pertimbanggan yang penting.
Ketika “pertunjukan” wayang hanya hanya bisa ditampilkan melalui relief batu pada bangunan candi, wayang batu telah menjadi alat tuntunan yang cukup pada masanya. Tetapi, ketika para pewarta tuntutan itu (“dalang”) perlu memperlebar jangkauan tempat menunjukkan kandungan cerita wayang, wayang batu tidak lagi dainggap sarana yang praktis. Maka, muncullah wayang bébér yang dibuat di atas sejenis bahan pipih dan rata: kulit kayu, kertas, atau pun kain. Wayang yang lebih menyerupai gambar cerita ini bisa digunakan untuk menyampaikan isi cerita oleh dalang tanpa batas ruang dan tempat.
Seorang dalang wayang bébér bisa membawa perangkat wayang ke mana saja ketika dia akan bercerita, menyampaikan tuntunan. Munculnya wayang kulit, jenis wayang yang paling banyak didapatkan di Jawa (terutama), Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Lombok, sejalan dengan kepentingan pengembangan sarana tuntunan tersebut.
Ketika para pengguna wayang masa lalu menyadari “keterbatasan” wayang kulit sebagai sarana tuntunan dan tontonan, para pemikir bidang wayang pada masa lalu merasa perlu menciptakan bentuk wayang lain yang lebih cocok untuk kepentingan pengembangan tuntunan kepada masyarakat. Wayang kulit, pada awalnya, ditampilkan mengandalkan cahaya bulan purnama. Perubahan muncul ketika sumber pencahayaan diganti dengan blencong, lampu cempor, atau lampu minyak.
Pembuatan wayang baru yang menuntut cara mempertunjukkan yang agak lain dari biasanya perlu dilakukan. Wayang mika yang akan mampu menampilkan efek berwarna jika ditampilkan seperti dalam pertunjukan wayang kulit, merupakan salah satu jawaban untuk memenuhi hasrat masyarakat penonton masa kini yang telah terbiasa menonton pertunjukan yang penuh warna. Penggunaan pencahayaan yang nekawarna, disesuaikan dengan tampilan watak tokoh dan suasana cerita, akan lebih menghidupkan isi cerita. Nilai tuntunan bukan terletak pada wujud atau bentuk medianya, tetapi pada keefektifan media tersebut dalam memberi rangsang persitindakan dengan orang yang akan menerima penyampaian tuntunan.
Pengenalan bahan mika, bahan pewarna mika, dan efek khusus bayangan wayang, bisa menambah wawasan dan memperkaya pengalaman bagi para juru wayang dan para dalang. Pengayaan bahan pembuatan wayang menghasilkan jenis wayang baru, wayang mika. Hal itu merupakan sumbangan yang berarti bagi peragaman dan pengembangan kekayaan khazanah perwayangan milik bangsa Indonesia. Wayang mika atau wayang yang dibuat dari bahan plastik mika,  bukan merupakan gagasan baru. Perubahan bahan pembuatan wayang, seperti diuraikan di atas, sudah sejak lama dilakukan. Perubahan bahan itu tentu saja disesuaikan dengan tuntutan zaman. Mika yang papar seperti kulit samakan, bisa ditatah menjadi wayang, diwarnai dengan teknik pewarnaan yang jernih (transparan, tembus pandang). Warna mika maupun warna watak tokoh wayang yang digambarkan secara simbolis pada bagian tubuh wayang, bisa menampilkan bayangan yang nekawarna pada kelir; bukan tampilan yang ekawarna seperti pada pertunjukan wayang kulit yang lazim.
Pengembangan wayang bukanlah hal yang tabu. Masyarakat Bali pada umumnya memiliki daya dukung sistem sosial yang disebut jengah (Mantra, 1992: 13). Kata jengah, dalam hubungannya dengan seni Bali, mengandung makna tautan (konotatif) competitive pride atau semangat untuk bersaing. Sifat jengah didukung taksu atau inner power, yaitu kreativitas budaya. Penciptaan wayang baru (wayang mika) dan penggagasan gaya pertunjukan wayang kulit yang penuh warna, bermanfaat untuk membangkitkan kembali kekuatan jengah dan taksu yang merupakan ciri khas masyarakat Buleleng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar